
Aku selalu suka empek-empek, dari empek-empek “elit” sampai
empek-empek “rakyat jelata”, dari yang pakai ikan tenggiri sampai yang pakai
teri. Bagiku empek-empek adalah makanan favorit sepanjang hayat. Kalau jajan di
warung Mbak Desi waktu SD dulu, pilihanku Cuma satu “empek-empek”, mulai dari
harga seratus perak satu sampai limaratus perak tiga aku selalu jadi konsumen
setianya, bisa jadi akulah konsumen setia lintas generasi, karena sampai
sekarang aku juga masih sering beli mpek-mpek di situ. Waktu di malang, aku mulai jatuh hati dengan
cilok, aaaah jadi kangen Cilok yang dijual di depan Matos ataupun Gerbang Masuk
UIN Malang Kampus 1. Bola kecil
kenyal-kenyil campuran aci dan daging (meskipun perbandingan aci dan dagingnya
1:1, maksudnya sekilo aci dan se-ons daging. :D) yang dinikmati dengan saus
kacang dan kecap nggak jelas keluaran pabrik mana, yang mungkin nomor izin
depkes-nya juga dikarang sendiri –bisa jadi gabungan tanggal lahir anak-anak si
pemilik pabrik— tapi selalu buat aku ketagihan. Ahhhhh andai di Lampung ada
cilok selezat itu... -_-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar