Tampilkan postingan dengan label TULIS SAJA!!!. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULIS SAJA!!!. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Atas Nama Rindu yang Menua..





Atas nama rindu yang menua, 
atas nama tubuhku yang menggigil di pintu dan jendela, 
atas nama apapun saja yang bergemuruh di dalam dada; puisi menjadi teramat perlu di sini, 
sebab getar di balik kata-kata lebih nyata dari segala yang kupunya. --Nawang--





Rabu, 12 Agustus 2015

Miladu Zawaj ---12 Agustus 2014 - 12 Agustus 2015---




Kepada yang tercinta; Uda Katik Rangkai Basa
Jika syukur memiliki derajat lebih mulia dibanding cinta,
agar engkau tahu aku bersyukur menjadi istrimu..

Setahun yang lalu di tanggal dan bulan yang sama seperti hari ini, kita mengikrarkan Mitsaqan Ghaliza, di depan wali dan para saksi, dipimpin penghulu bertabur haru. Pada jeda berikutnya, kita menjadi manusia yang tak lagi sama, aku dan kamu telah menjadi kita, dua hamba asing yang saling menautkan cinta dalam bingkai sunahnya.

Mari melantunkan syukur untuk nikmat iman, nikmat kesehatan, untuk rizki yang cukup, untuk bahagianya kebersamaan, untuk sendunya jarak yang kerap membentangi raga, dan untuk generasi rabbani yang masih terus kita upayakan kehadirannya.

Terimakasih, Abang. Terimakasih telah menjadi teman hidup seharga separuh agama. Terima kasih untuk bahagia dan tawa yang selalu tercipta, terimakasih untuk tidak pernah (tidak pernah-tidak pernah-tidak perna secuilpun- sedikitpun) marah dan berkata kasar, terimakasih telah menjadi imam yang kokoh atas kualitas penghambaanku yang kerap rapuh.

Mari berkelana ke penjuru bumiNya yang luas tak terhingga, menjadi sepasang hamba yang  terus haus ilmu, menjadi sepasang sayap yang saling mengimbangi dan mencintai tanpa pernah jemu. Teruslah menjadi suami yang lembut tuturnya, menjadi rekan berdebat, menjadi sahabat yang saling berbagi, menjadi pertner tangguh untuk bersama-sama menjinakan kemarau dan hujan. Teruslah menjadi manusia baik yang menebar manfaat.

Dan....  teruslah mencintaiku. 

Lampung, 12 Agustus 2015
Ditulis dengan haru air mata dan linangan gerimis jiwa, diiringi lantunan piano yang dimainkanmu, Kekasih.




Senin, 01 Juni 2015

SINUSITIS

Idhul Adha lalu saya terkena Sinusitis. Yang membuat saya sangat menyiksa adalah ketika berada di kantor, tentu tidak memungkin untuk membuang lendir hidung menggunakan tisu di dalam ruangan, karena ruangan kantor saya dihuni juga oleh beberapa teman lain. Akibatnya saya harus bolak-balik ke kamar mandi. Jika di rumah saya cukup hanya membersihkan dengan tisu basah lalu dibuang di kotak sampah kamar. Saat itu saya tidak tahu sudah menghabiskan berapa kaleng tisu basah.
Menurut Wikipedia, Sinusitis merupakan peradangan atau pembengkakan pada jaringan yang melapisi sinus. Di sekitar rongga hidung terdapat empat sinus, yaitu Sinus Maksilaris (terletak di pipi), Sinus Etmiodalis (Kedua mata), Sinus Frontalis (Terletak di dahi) dan Sinus Sfenoidalis (Terletak di belakang dahi). Biasanya sinus berisi udara, tetapi ketika tersumbat dan berisi cairan, kuman (bakteri, virus, dan jamur) dapat berkembeng dan menyebabkan infeksi.
Awalnya saya tidak tahu jika saya mengalami sinusitis, saya kira hanya flu biasa. Karena saya memang termasuk orang yang mudah terkena flu jika terkena debu, minum es atau cuaca terlalu dingin. Namun yang membuat saya merasa aneh, saat itu lendir di hidung berbau dan selalu muncul kembali beberapa detik setelah dibersihkan. Diikuti juga rasa nyeri di sekitar pipi dan alis.
Dari ciri-ciri yang saya alami, saya segera browsing di internet untuk mengetahui apa yang saya alami. Dari beberapa artikel yang saya baca, hipotesis yang saya dapat adalah saya terkena Sinusitis. Saya menjadi sangat khawatir ketika salah satu artikel itu menyebutkan jika tidak segera diobati, sinusitis akan menahun. Oh Nooooooo!!!! saya tentu tidak mau penderitaan ini berkepanjangan!
Pada artikel-artkel yang saya baca itu, terdapat pula pengalaman-pengalaman sesama penderita sinusitis dan berbagai upaya yang mereka lakukan untuk menyembuhkannya. Dari sana saya mendapati banyak yang mengalami kesembuhan  setelah minum Propolis.
Tidak menunggu lama, saya segera membeli Propolis di Apotik. Saya minum 2 kali sehari, setelah sarapan dan menjelang tidur malam. Propolis diminum dengan cara meneteskan cairannya pada sekitar ¼ gelas. Jumlah tetesannya tergantung berat badan si Penggunanya. Satu tetes untuk setiap 10 Kg berat badan, jadi jika berat badan kita 40 Kg, maka cukup hanya meneteskan 4 kali, jika 50 Kg, 5 tetes, begitu seterusnya. Alhamdulillah Sinusitis berangsur pulih, dan tidak sampai seminggu Sinusitis benar-benar tidak muncul lagi sampai saat ini.

(Tulisan ini murni berbagi pengalaman. Bukan bermaksud mengiklankan produk)

Menyelami Pendidikan Pesantren

Hiruk-pikuk Ujian Nasional (UN) telah berakhir. Sebagian masyarakat disibukkan mencari sekolah baru untuk menyongsong tahun ajaran baru. Banyak alternatif sekolah yang menjadi pilihan, salah satunya adalah Pesantren.
Pesantren sebagai sampel institusi pendidikan yang mengemas dua bentuk pendidikan dalam satu durasi kurikulum, yaitu pendidikan formal dan non formal, menjadi alternatif jitu. Sebab pesantren tidak hanya berfokus pada pendidikan mainstream yang menekankan Ilmu dan teknologi (Imtek) saja, namun juga pendidikan iman dan takwa (Imtak).
Pada pesantren moderen yang menerapkan sistim  asrama (boarding school), siswa (santri) dapat belajar lebih efektif dan produktif, sebab siswa dapat dengan mudah berinteraksi langsung dengan guru di dalam dan luar kelas. Selain itu, asrama meminimalisir siswa terkontaminasi lingkungan luar yang kurang edukatif.
Kegiatan siswapun menjadi padat. Pagi hingga siang siswa belajar di kelas untuk mengikuti pelajaran seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Di luar jam sekolah siswa diwajibkan mengikuti program-program asrama. Program-program itu melatih siswa untuk terampil pada bidang tertentu yang tidak didapatkan di kelas.
Sahalat berjamah, tilawatil Quran, mengkaji hadits, tafsir dan kitab-kitab lainnya merupakan program rutin asrama. Pengkajian sumber-sumber hukum islam dan kitab-kitab bertujuan agar siswa paham  norma-norma syariah. Sehingga siswa dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan tata cara yang hanif di asrama maupun saat sudah berkeluarga dan bermasyarakat.
Di Pesantren biasanya terdapat ekstrakulikuler yang wajib diikuti setiap siswa seperti pidato 3 bahasa  (Indonesia, Inggris dan Arab), Pramuka dan Muhadatsah. Selain itu, terdapat ekstrakulikuler tambahan yang dapat dipilih sesuai minat siswa seperti Kaligrafi, literasi, Bela diri, Musik dan Olahraga. Adanya ekstrakulikuler  terbukti dapat mengembangkan bakat dan kreatifitas siswa.
Jiwa kepemimpinan dalam diri siswapun diasah melalui organisasi siswa di asrama. Organisasi siswa ini lebih kompleks dibandingkan dengan organisasi di sekolah-sekolah pada umumnya. Sebab organisasi siswa menaungi unit-unit tertentu yang berperan aktif mengontrol pelaksanaan program-program asrama yang berkesinambungan selama 24 jam. Organisasi siswa ini tentu berperan besar dalam kelancaran aktifitas siswa di asrama.
Seluruh warga pesantren yang mencangkup Kiyai, Guru dan Siswa tinggal dalam satu lingkup yang berdekatan. Kedekatan ini menjadikan silaturahmi terjalin lebih akrab. Kiyai dan Guru mengaggap Siswa layaknya anak-anak mereka sendiri, begitu pula sebaliknya.
Di pesantren, kiyai dan guru-guru merupakan tokoh sentral yang dihormati, diteladani danditaati. Ketaatan ini seperti menjadi doktrin di pesantren. Maka tidak heran jika seorang siswa pesantren dapat menghormati guru-gurunya dengan penghormatan yang sangat.
Siswa di pesantren datang dari latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan ini tidak menjadi halangan untuk hidup rukun. Terbiasa tinggal bersama dalam waktu yang tidak sebentar, serta merasa mempunyai nasib yang sama; jauh dari orangtua, dapat menguatkan jalinan ukhuah antar siswa. Di sini siswa dilatih untuk dapat bersosialisasi dalam lingkup yang kecil, sehingga kelak akan terbiasa saat terjun di masyarakat.
Kehidupan pesantren yang agamis tentu berpengaruh besar dalam pembentukan karakter setiap warganya. Sebab lingkungan turut mendonasi pembentukan karakter seseorang. Maka dapat disimpulkan pesantren berperan besar dalam mendidik karakter siswa. Itu artinya Pesantren memberikan kontribusi signifikan dalam membangun moralitas dan karakter bangsa.
Maka pendidikan pesantren merupakan pengkaderan generasi bangsa yang bukan hanya cakap dengan ilmu dan teknologi saja, tapi juga generasi yang dipenuhi keimanan dan ketakwaan di dadanya. Ini sejalan dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bahasa Arab
Selain bahasa Inggris, bahasa asing yang diajarkan di pesantren adalah bahasa Arab. Bahasa Arab yang merupakan ciri khas pembelajaran pesantren, tentu penting dipelajari. Sebab bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam sumber-sumber hukum Islam.
Keunikan bahasa Arab yang tidak dimiliki bahasa manapun antara lain pada akar katanya. Dari akar kata itu dapat dibentuk berbagai macam kata yang berbeda artinya. Misalnya kata ‘kataba’ yang berarti menulis, dapat dirubah menjadi ‘maktub’ yang berarti tertulis, ‘kaatib’ yang berarti penulis, ‘kitaab’ yang berarti buku, ‘maktab’ yang berarti meja, ‘maktabah’ yang berarti perpustakaan dan masih banyak lagi perubahan lainnya.
Dalam pengajaran bahasa Arab di Pesantren, metode yang digunakan beragam. Metode itu antara lain adalah Metode Gramatika Tarjamah (Thariqah al-qawaid wal tarjamah), Metode langsung (Thariqah al-mubasyirah), Metode Membaca (Thariqah al-qirah), Metode Audiolingual (Thariqah as-sam’iyah wa syafahiyah), Metode Eklektik (Thariqah al-intiqaiyah) dan masih banyak lagi yang lainnya. Metode pengajarannya dipilih sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari 4 keterampilan bahasa yang meliputi keterampilan mendengar (maharah al-istima’), keterampilan berbicara (maharal al-kalam), keterampilan membaca (mahara al-qiraah), dan keterampilan menulis (maharah al-kitabah).
Pengajaran bahasa asing di pesantren, khususnya bahasa Arab, tidak diajarkan sebatas pada tataran teori saja, namun juga wajib diaplikasikan dalam komunikasi sehari-hari di asrama. Kewajiban ini berlaku bagi seluruh warga pesantren.
Bahasa asing diaplikasikan dalam waktu bergantian, jika satu minggu seluruh penghuni pesantren berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, maka selama satu minggu berikutnya komunikasi dirubah menggunakan bahasa Inggris, begitu seterusnya.
Upaya ini bertujuan agar  siswa  cakap berbahasa asing dengan lisan dan tulisan. Karena bahasa adalah alat komunikasi, maka dengan menguasai beberapa bahasa asing, itu artinya siswa jebolan pesantren siap berkomunikasi bahkan berkararya di kancah internasional.

Keikhlasan Orang Tua.
Pendidikan pesantren membiasakan siswa untuk hidup sederhana. Jika di rumah siswa terbiasa dengan kamar yang dihuni sendiri, maka di asrama mereka harus rela menempati kamar yang dihuni bersama 10 -15 siswa lainnya. Sayur dan lauk yang ada di pesantrenpun mungkin tidak beragam dan selezat masakan di rumah. Jumlah uang saku dan pakaianpun siswa dipesantren pula dibatasi.
Kehidupan pesantren  yang kontras dengan kebiasaan di rumah inilah yang kerap menjadi alasan tidak betah tinggal di asrama. Terlebih saat awal-awal masuk pesantren. Maka keluhan minta pindahpun sering terlontar.

Disini peran orangtua sangat penting. Orangtua seyogyanya dapat menasihati dan mensuport penuh anak-anak mereka, suport ini salahsatunya adalah dengan mengikhlaskan anak untuk patuh terhadap peraturan pesantren. Sebuah hadits menyebutkan jika keridoan Allah terletak pada keridoan orangtua. Keridoan ini diindikasikan dengan ikhlas. Sebab keikhlasan dan doa terbaik orangtualah yang menstimulan keberhasilan seorang anak.

ESENSI QURBAN DAN KECERDASAN SPIRITUAL


Idul Adha atau hari raya qurban yang setiap tahun dirayakan umat islam dengan menyembelih hewan ternak pilihan seharusnya tidak lagi dimaknai sebagai sebuah ritual, akan tetapi juga sebagai evaluasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
            Qurban berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata : qaruba (fi’il madhi) – yaqrabu (fi’il mudhari’) – qurban wa qurbaanan (mashdar). Artinya, mendekati atau menghampiri (Matdawam, 1984). Sedangkan menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya (Ibrahim Anis et.al, 1972).
            Menurut Imam Syafi’i, hukum qurban adalah sunat muakkad yang sangat dianjurkan kepada mereka yang mampu, termasuk para hujjaj (jamaah haji) yang berada di Mina. Serta umat islam yang berada di daerahnya masing-masing karena ibadah qurban adalah amalan yang sangat dicintai Allah pada hari nahr (Hari Raya). Namun sebagian ulama juga ada yang mengatakan bahwa ibadah qurban adalah wajib kepada mereka yang mampu. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat kepada Allah ( Tuhanmu ) dan berkorbanlah.”
            Untuk memahami esensi ibadah kuraban, bisa kita tinjau dari aspek historisnya. Dalam Al Quran disebutkan bahwa pengurbanan pertama yang dilakukan adalah pengurbanan Habil dan Qabil (Qs. Al Ma’idah ayat 27). Ketika itu keduanya diminta berkurban harta yang dimiliki untuk menentukan pendapat siapa yang paling benar diantara mereka. Sebelumnya, Nabi Adam a.s akan menikahkan kedua putranya tersebut secara silang; bukan dengan saudara kembarnya. Namun Qabil menolak keputusan tersebut sementara Habil menerimanya. Akhirnya mereka diminta untuk berqurban. Qabil mengurbankan sisa-sisa hasil pertanian, sedangkan Habil mengurbankan ternak terbaiknya. Akhirnya pengurbanan habil yang didasari dengan ketaatan dan keikhlasan itulah yang diterima oleh Allah SWT.
            Berdasarkan kisah Habil dan Qabil tentang qurban yang diterima oleh Allah, menunjukan bahwa ketaatan dan keikhlasan adalah hal yang paling utama dalam beribadah.
            Sejarah yang lebih fenomenal adalah kisah Nabi Ibrahim as dan putranya Isma’il. Nabi Ibrahim as tidak pernah berhenti berdoa untuk memiliki seorang anak yang shaleh. Doa ini Allah abadikan dalam Al Quran pada surat As saffat ayat 100. Hampir seabad usia Nabi Ibrahim –menurut Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar ketika itu usia Nabi Ibrahim adalah 86 tahun–  Barulah Allah mengabulkan keinginannya untuk memiliki seorang putra melalui rahim  Siti hajar. Putra itu diberi nama Isma’il. 
Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Ismail as. Perintah ini tidak direspon oleh nabi Ibrahim dengan gegabah. Nabi Ibrahim terlebih dulu mengatakan kepada putranya “Wahai putraku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu” Isma’ilpun tidak menjawabnya dengan ego, namun menjawabnya dengan tegas” Wahai Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan (Tuhan) kepada ayah, dan Insya Allah ayah akan mendapati aku dalam golongan orang yang sabar. Tentu ini merupakan sebuah ujian yang berat bagi seorang ayah. Namun karena ketaatan dan kecintaan ayah dan anak itu kepada Allah, maka Nabi Ibrahim dan Isma’il tetap  melaksanakan perintah Allah walaupun ternyata  pada akhirnya Allah mengganti Isma’il dengan seekor domba saat disembelih.
Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian dari Allah, sekaligus perjuangan maha berat seorang nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat jibil untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan  ketakwaan, keikhlasan dan kepasrahan seorang Ibrahim dan Ismail pada perintah sang pencipta.
            Dengan memahami nilai historis ibadah qurban,  kita diharapkan mampu memetik esensi sesungguhnya dari ibadah tersebut yang menguji keikhlasan hati dalam beribadah dan kepedulian sosial dalam setiap aktivitas. Jika pemahaman terhadap ibadah yang diperintahkan Allah dilakukan secara komprehensif, maka setiap ibadah tersebut akan pararel dengan kehidupan sosial; semakin tinggi ketaatan hamba kepada perintah Allah berupa ibadah mahdhah, maka semakin berkualitas pula kehidupan masyarakat di sekitarnya
            Esensi qurban yang disyariatkan di bulan dzulhijah sebagai bulan terakhir dari kalender hijriyah ini, bukan sekedar momentum untuk membagi-bagikan daging kepada fakir miskin, tetapi dibalik itu semua ada nilai-nilai spiritual yang sangat berharga bagi seluruh umat manusia.

Bagi Ali Syari’ati (1997), ritual qurban bukan hanya bermakna bagaiman amanusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akantetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Sementara bagi Jalaludin Rahmat (1995), ibadah qurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas sosial Islam, mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang kekurangan.

            Dengan qurban, kita diminta untuk peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap kaum proletar yang masih banyak terdapat di sekeliling kita, peka terhadap situasi Negara kita yang semakin sering bermunculan berita mencengangkan sehingga  menambah pengap iklim yang pada dasarnya sudah panas dan pengap.

            Dengan qurban pula kita diminta untuk dapat memanifestasikan rasa syukur dan puncak taqwa. Ia menjadi tanda kembalinya manusia kepada Allah SWT setelah menghadapi berbagai macam ujian berat. Qurban disyariatkan untuk mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan yang kekal memerlukan pengorbanan berat. Tentu saja yang diqurbankan bukanlah manusia, bukan pula nili-nilai kemanusiaan, tetapi hewan sebagai pertanda bahwa pengorbanan  harus ditunaikan dan bahwa yang dikorbankan adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia seperti sifat rakus, tamak, ego, mengabaikan norma, nilai dan sebagainya.  Secara harfiyah, kesempurnaan ibadah qurban ini bermakna membunuh segala sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia.

            Jika nabi Ibrahim memiliki Isma’il dan ia sangat mencintainya, lalu bagaimana dengan kita? Isma’il merupakan simbol kecintaan Ibrahim selain kecintaanya kepada Allah. Artinya, kitapun sebenarnya mempunyai “isma’il-isma’il” dalam kehidupan ini. Ismail itu dapat berupa uang, rumah mewah, mobil, perusahaan, jabatan, anak, suami atau isteri, atau juga terhadap diri kita sendiri dan segala sesuatu yang menjadikan kecintaan kita di dunia ini, selain kecintaan kita kepada Allah SWT. Sudahkah kita mengorbankan “isma’il-isma’il” kita tersebut untuk Allah dengan ikhlas, sabar dan tawakal? Cara mengorbankannya bukanlah dengan menyembelih atau memusnahkan sebagaimana Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Isma’il. Namun mengorbankan “isma’il-isma’il” yang dimaksud adalah dengan menggunakannya untuk kepentingan agama Allah dan berdampak positif terhadap kehidupan sosial.

            Maka betapa wibawanya orang yang sudi mengunjungi saudara-saudara kita yang kekurangan dan bertanya tentang perih kehidupan yang mereka rasakan, lalu membagi sebagian hartanya dengan ikhlas dan diam-diam. Apalagi jika seorang pemimpin yang rela merogoh pundi-pundinya sendiri di saat mereka terhimpit kesulitan. Kunjungan itu membuat mereka merasa hidup ini masih ada yang memimpin, di bawah hujan kesulitan sehari-hari setidaknya tetap terasa masih ada payung yang melindungi nasib mereka.


            Semoga momentum idul Adha kali ini dapat merefleksi kita dan lebih membukakan lagi telinga batin kita yang mungkin mulai tumpul, atau mungkin kecerdasan spiritual kita yang mulai terganggu. Agar bumi yang kita singgahi ini, yang airnya kita minum bersama-sama, semakin nyaman dan enak dihuni.