Tampilkan postingan dengan label Menggalau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menggalau. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Katik Rangkai Basa



engkaulah ricik dari setiap nafasku yang megalir
engkau ubun-ubun yang terlahir lewat  getar dawai syair

Sejak waktu itu
ketika almanak menjatuhkan tubuhnya pada angka dua belas
Bulan ke-delapan tahun duaribu empat belas
Engkau meminagku
Di hadapan penghulu disaksikan malaikat berwajah sendu
Menjadikanku kebun dari usiamu

Kuterima engkau, Katik Rangkai Basa
Melalui shalat-shalat malam yang senyap
Kuterima engkau menjadi pakaianku
Menjadi imam dari setiap  penjuru mata angin
Dengan mas kawin kedamaian di setiap musim

Engkau yang tak akan raib dari ingatan
Hingga nyawa tercerai dari badan
rahim ini terlanjur bermukim di mimpimu, Katik Rangkai Basa

Trimurjo 2014


Atas Nama Rindu yang Menua..





Atas nama rindu yang menua, 
atas nama tubuhku yang menggigil di pintu dan jendela, 
atas nama apapun saja yang bergemuruh di dalam dada; puisi menjadi teramat perlu di sini, 
sebab getar di balik kata-kata lebih nyata dari segala yang kupunya. --Nawang--





Selasa, 02 Juni 2015

Melodi Rindu


Menatap langit pekat bumi Lampungku
Tak satupun bintang menggantung di sana
Tak hadir jua bias dewi malam
Mendung menyulap benda-benda langit berembunyi di balik awan hitam yang menggumpal
Seperti gumpalan rindu dalam hatiku
Pada sekeping hati yang tak pernah tau dirindu.


Lampung, 10-05-2011

Senin, 01 Juni 2015

Di tengah desir gerimis...

Di tengah desir gerimis yang lamat menyapa telinga, saat petang ingin telanjang,  pada langit yang telah memejam, kutunggu janji yang telah ditunai siang tadi. Namun nihil, dan terpaksa kutelan lg pil phit.

Malam hangus, dini hari menjelma. Namun kantuk tak jua tiba.sekuat tenaga kukunyah waktu dengan menggores cerita. Tentang sekelumit warna dalam kalbu yang masih memantul dalam otak kelabu.
Tentang sepotong episode yang sempat mengharu biru,  aku menunggu kantuk yang tak juga datang menyapa.  Sembari mengunyah waktu,  akan  kucoba menggores sebaris cerita. Tentang sekelumit warna dalam hidup yang masih mengebul dalam otak kelabu.  Namun maaf, tulisanku tak selalu bisa kubahasakan dengan istimewa.


Aku selalu sulit menunjukan maksudku dengan tingkah laku. Semuanya tak mudah ku ungkapkan selugas tarian pena. Selalu serba salah di hadapmu. Padahal tersimpan segunung kata yang ingin ku ungkapkan kala itu,  semua itu justru mencipta kenangan-kenangan tak indah dan enggan mengulangnya. Aku pun tak tahu mengapa, mungkin angkuh dan malu terlalu meraja.  

Aku ada Karena Kau telah tercipta

Dalam bentangan cakrawala kau menebarkan jejak berupa bintang-bintang.  Kukumpulkan, kugenggami dan kuerami dalam doa-doa.  Biar kurangkai menjadi  Andromeda, Antlia, Microscopium,  Puppis atau rasi apa saja. Lalu akan kukembalikan padamu.  Saat itu, mari  menyulang cahaya. Untuk merayakan bersatunya raga yang seperempat abad tak pernah sua. Meski  sejatinya jiwa kita saling memeluk dalam harap dan air mata. Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.

Marahilah aku...

Sesekali marahlah!! Jangan karena takut kehilangan atau aku tinggalkan lalu kau durhakai emosimu, kau redam ucapmu. Asal kau tahu, aku juga ingin kau marahi, kau acuhi, kau bisui barang setengah hari. Agar cinta ini lebih berwarna, berdegradasi seperti pelangi. Mejikuhibiniu.