Tampilkan postingan dengan label MENCOBA BERSAJAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MENCOBA BERSAJAK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

Katik Rangkai Basa



engkaulah ricik dari setiap nafasku yang megalir
engkau ubun-ubun yang terlahir lewat  getar dawai syair

Sejak waktu itu
ketika almanak menjatuhkan tubuhnya pada angka dua belas
Bulan ke-delapan tahun duaribu empat belas
Engkau meminagku
Di hadapan penghulu disaksikan malaikat berwajah sendu
Menjadikanku kebun dari usiamu

Kuterima engkau, Katik Rangkai Basa
Melalui shalat-shalat malam yang senyap
Kuterima engkau menjadi pakaianku 
Menjadi imam dari setiap  penjuru mata angin
Dengan mas kawin kedamaian di setiap musim

Engkau yang tak akan raib dari ingatan
Hingga nyawa tercerai dari badan 
rahim ini terlanjur bermukim di mimpimu, Katik Rangkai Basa

Trimurjo 2014

Rabu, 26 Oktober 2016

Atas Nama Rindu yang Menua..





Atas nama rindu yang menua, 
atas nama tubuhku yang menggigil di pintu dan jendela, 
atas nama apapun saja yang bergemuruh di dalam dada; puisi menjadi teramat perlu di sini, 
sebab getar di balik kata-kata lebih nyata dari segala yang kupunya. --Nawang--





Selasa, 02 Juni 2015

Untuk Panjenengan, Uda Taufiq Hidayat Nazar

Hari hari bertabur cinta
Meki masih hitungan hari
Namun kau telah menaburkan beribu bahagia di hati

Kau benar, cinta memang bukan masalah usia
Bukan juga tentang kata-kata cinta fatamorgana
Yang  diumbarsebelum mitsaqon ghaliza tiba

Sebab cinta adalah tentang ketenangan hati
Saat berdampingan dengan belahan hati
Untuk menggapai ridha-Nya kala meniti hari demi hari

Cinta juga tentang ketulusan
Dan bersinergi untuk saling melengkapi kekurangan
Agar selaras mengarungi melodia zaman

Cinta juga tentang berbagi
Dan tidak perlu mengungkit apa yang telah kita beri
Sebab kebaikan selalu mengerti
Ke arah mana ia akan kembali

Jika bening embun dapat menyejukkan pagi
Maka engkau adalah rinai hujan yang turun setelah gersang merajam bumi
Jika ricik air dapat menghapus tiap-tiap dahaga
Maka kehadiranmu  adalah obat kepiluan jiwa

Untuk panjenengan, Uda Taufiq Hidayat Nazar
Terimakasih telah membersamai
Menjadi suami sekaligus sahabat hati yang selalu siap kuajak berbagi.

Uhibbuka hubban syadidan, yaa zawji,yaa habibi albi.  :’)

Kepada Nafasmu; Katik Rangkai basa

Maaf jika cintaku tidak bisa kubahasakan dengan istimewa
Lewat dayu syair atau majas-majas hiperpola
Namun ketahuilah,
Tidak sedetikpun kulalui hari tanpa mengingatmu.
Betapa jiwa ini merana kala jarak memisahkan kita
Betapa hati ini pilu kala terbangun tengah malam dan tak ada kau di sampingku.

Engkau yang beberapa bulan lalu masih asing,
Kini menjadi orang yang paling mengenal dan memahamiku
Menjadi  pendamai jiwa
Kala kepiluan datang melanda
Menjadi penyejuk hati
Kala kerikil kehidupan datang menghampiri

Engkau yang lembut hatinya
Yang santun lakunya
Terimakasih sudah mencintaiku apa adanya



Lampung, 31 Oktober 2014


PUNGGUNG SYA’BAN BERPAMIT PULANG


[1]
Bumi tak pernah khianat janji, berlari mengitari halaman rumah matahari, itulah sebab  begitu cepat alamat menit berpindah tempat, kenangan sudah beranak pinak, kemarau kembali disangkal musim, hingga rajab hangus ke sya’ban, menggemakan kidung surgawi, pada jiwa-jiwa yang tak lelah menanti.

[2]
Wangi  Ramadhan telah dibawa bening hujan yang mengguyur dedaunan,  meninggalkan  jejak tanah basah, menguapkan aroma rindu, pada mushaf yang dipupuri debu, pada pekikan sahur  yang menggusur tidur, pada ribut bedug ompong  yang menendangi lambung-lambung kosong, pada magrib yang menjelma embun membasahi gersang kerongkong, juga pada hembusan ayat-ayat-Nya yang  meluruhi keringat setelah rakaat ke duapuluh empat.

[3]
Kepak merpati menerbangkan memori,  menyinggahi  dahan kenangan yang belum rapi, dan aku menemukan lembaran-lembaran ingatan, tetentang bulan ketika pahala digandakan, tentang bulan yang menyapu hitam dosa: ramadhan.  Juga pada pesan keramat Imam Ghazali “perut yang disengaja lapar karena berpuasa itulah yang kelak akan mengetuk puntu surga” katanya.

[4]
Telah kugoreskan sebait rayu dalam gigil, kutitipkan melalui deras arus yang bermuara pada-Mu, tentang inginku yang tumpah pada  pesona malam paling  mulia: yang Kau semat lima ayat dalam jingga kitab suci yang kubaca.


Duhai  Penggenggam jiwa, izinkan aku berada dalam jamuan cinta-Mu, merukuk bersama pohon-pohon, rumah-rumah, desau angin, pejam langit, dan semua ciptaan-Mu yang masih ada maupun yang telah hilang, saat punggung sya’ban berpamit pulang.

Bumi Kinanah


Tentang Bumi Kinanah
yang menyungai darah
Bertambah bilangan  yatim dan piatu
sebab hujaman peluru-peluru

Misr al-Ghaliyah, Allah jamin dalam Quran-Nya
“Udhuluu Misra Insha Allahu Aminin”

Yaa Misr al Ardhil Kinanah
Yaa Misr al ‘Azhimah
Yaa Misr al Rahinah
Yaa Misr al Majidah
Yaa Misr al Hazinah
Tak ada yang mampu kubuat
Selain menjadi anak panah
Melalui doa resah dalam hamparan sajadah
Padamu,  jasad-jasad yang telah rebah
Tuhanmu  Maha adil dan pemurah
Akan ada pertanggungjawaban
Atas kejinya sebuah kezaliman.

Metro, Lampung, 2013


Negeri Pesisir



Dapatkah kau dengar bingar nyanyian, Tuan?
Melubangi telinga Tuan yang renta
Tentang mereka yang  menabung lapar di lambung
Berbaju lusuh dan berpeluh
Mengepal lelah hingga tumit pecah dan terbelah

Juga tentang mereka yang lain
bergincu dan minum susu
wangi dan berbaju rapi
Plesir ke negeri paling pesisir


Metro, Lampung, 2013

Luka paling menganga


Tak ada luka paling menganga
selain kesedihan gadis yang ditinggalkan pujaan
hidup serupa neraka
menjejak seperti mayat berjalan
hari-hari berkidung lara
air mata beku  menjadi  kesakitan
itulah guna iman tertancap di dada
agar tak salah langkah dan tujuan

Metro, Lampung, 2013

Luka paling menganga


Tak ada luka paling menganga
selain kesedihan gadis yang ditinggalkan pujaan
hidup serupa neraka
menjejak seperti mayat berjalan
hari-hari berkidung lara
air mata beku  menjadi  kesakitan
itulah guna iman tertancap di dada
agar tak salah langkah dan tujuan

Metro, Lampung, 2013

Menenun Jejak


Perihal pipiku yang mengalir sungai sungai kecil
Dari mata yang membanjir saat embun mulai mengigil
Tersebab hati telah retak
Sejak cintamu enggan mengarak
Tiba waktuku menenun jejak
Mengumpulkan kenangan yang mulai mengerak
Untuk kutanak  menjadi sajak-sajak


Metro, Lampung, 2013

Restu Tetua


Apalagi yang bisa dilakukan gadis yang merindukan pujaan
Selain lelap yang digadai dalam doa-doa malam
Atau menanam sungai di pipi dengan aliran airmata yang  memecah bebatuan

Tak ada lagi yang kita tunggu
selain restu terseduh dari hati para tetua dengan ikhlas penuh
Sedang semua rasa dalam dada tak henti-henti bergemuruh
Tentang  penyamudraan hati yang ingin  segera berlabuh
Memuarakannya dalam ijab qabul utuh

Katamu, kita akan membangun cita cinta
Dari mimpi-mimpi yang lelah berkelana
Pada malam-malam pekat miskin cahaya

Telah tua asa kita langitkan
Terbang jauh, payah menemukan tepian; adalah kepedihan.
Seperti burung-burung kecil dianiaya kehausan
Lelah hampir  jatuh dari dahan-dahan harapan

Kabarkan kedatangan, Kakanda
Bersama aroma Singkarak yang harum
diteruskan siut angin yang tak henti tersenyum
hingga penantian lebur dalam syukur yang terlantun


Metro, Lampung, 2013

Muasal dari Segala Kepergian


Sejak abad-abad jauh yang tak butuh hitungan,
datang adalah muasal dari segala kepergian.
Lalu, sunyi  adalah muara dari segala kesedihan.

Pernah kita memahat kenangan, dalam tiap tapak-tapak jalan, pada sawah dan ladang-ladang, pada bunga-bunga  kopi yang wangi,  pada rupa yang datang dan pergi bergantian, yang banyak mengajarkan silsilah kehilangan.

Satu tanya yang tersembunyi dalam sunyi-sunyi yang kunaungi. Perihal alasan engkau membakar ribuan peta, hingga kesedihan tidak pernah tahu bagaimana seharusnya menapaki jalan, menuju mukim di rahim-rahim kebahagiaan

Dimataku nanti akan tumbuh lubuk. Dengan ratusan ikan yang tak pandai berenang. Tersebab engkau lupa menitipkan sirip dan insang.

Nanti engkau paham, air mata mampu lebih banyak berkata-kata,  sunyi dan puisi menjadi lebih nyata dari  segala yang aku rasa.


Singosari, Malang,  2013

Merdu laku Seorang Ibu

Kueja gurat semangat sebaris pesan
Pada tubuh yang  merapuh tanpa keluh
Keriput  mengkrucut tak menggoda semangatnya lucut.
Hingga kering genang lautan lelah  dibuatnya ciut

Kusaksikan merdu laku seorang ibu
Pada pemilik mata jelita sehitam zaitun
Luap bening embun kasihnya  menetes tertuntun
membasahi rerumputan hati  agar tak pias disapu panas

Dialah pemilik rahim garba
Tempat  awal kisah anak manusia  bermula
Menjinakkan kemarau
Mendamai badai
Mengunyah dahsyat rimba kehidupan

Dialah bidadari bumi hadiah Tuhan
Pembawa kehangatan langit
Pengibas kutukan semesta
Karna di suci telapak kakinya
Mengalir deras arus firdaus
Berbakti padanya adalah menyalakan seribu bintang
Dalam gelap lumbung tempat berpulang.


Lampung, 24-05-2011

Kepada Nafasmu..

[1]
Kepada nafasmu yang pernah mengalirkan bening hujan
Melalui dering telpon genggam, yang selalu aku tunggu saat langit mulai memejam.

Manalah mungkin aku memutus urat di nadimu
Sedang darahku terlanjur mengalir di dalamnya
Menyusuri tiap degub jantungmu
Yang mendenyut di dadaku.

[2]
Kepada coklat biji matamu yang pernah menghantarkan semangat
Melalui bening embun pagi yang menghinggapi kuncup pucuk melati

Manalah mampu kuparuh hatimu dan menyodorkannya pada yang lain; adalah meminang kesedihan.
Serupa merubah biru menjadi abu. Lalu membiarkan waktu mati dengan caranya sendiri.

[3]
Musim telah berganti nama, kepada durja ia memilih hinggap
Birupun terlanjur menjelma abu
Tiada lagi rindu yang bersambut
Atau tawa yang mengobati risau hati paling putus asa
Sedu menderu, sedih merepih memilu

[4]
Kususuri tiap letih yang tertitih
Mengunyah waktu lalu meludahkannya dalam aliran parit mimpi burukku
Kulangitkan doa pada Ia Sang penggenggam Nyawa

Semoga dapat menjadi mantra bagi luka-luka hati yang masih menyala

Lelaki Cahaya; Sebuah Dzikir kerinduan

Kepada Lelaki Cahaya, yang melalui Rahim garba Umunaa Aminah kisahnya sebagai anak manusia bermula; Muhammad ibn Abdullah.

Setelah sejarah menerjemahkan riwayat kehidupanmu yang paling darah
dalam naungan langit dan bumi yang terkadang damai dan  bergetar marah
yang sampai padaku  melalui gemulai angin yang melewati kekokohan gunung-gunung juga wangi samudra  yang menyuburkan tanah
maka kerinduan yang membuncah menjadi serupa umpan yang mengundang airmata untuk selalu tumpah
dalam shalawat muhabbah
doa yang menengadah
dan bentangan sajadah yang resah.

Dzikir kerinduan yang mengetuki hati paling nurani adalah muara dari mataku yang menelaga
hingga sungai-sungai membanjir di pipi
membuncahkan keimanan yang sering rapuh menjadi kembali mendidih bergemuruh
hanya tertuju kepada engkau duhai lelaki cahaya
yang harum namanya terus mendenyut dalam jantung-jantung  zaman berabad-abad lamanya.

Maka izinkan aku menikmati rindu yang mengumpar terbiar
mengarus dalam aliran denyut-denyut nadi yang menjadikan tubuhku bergetar
Sehingga tak dapat kuungkapkan segala rindu yang mekar
kecuali dengan cinta, linangan air mata dan gerimis jiwa yang membelukar

Biarkan pula kulantunkan dzikir dalam kucuran alir dawat syair.
Maka kini kupilihkan untukmu rindu yang tiada tepi,  yang kugoreskan dalam bait-bait puisi
 Lalu mengeraminya menjadi sebuah cerita tanpa narasi
agar rindu yang kian  menggemuruh dapat sampai kepadamu
bersama doa-doaku yang pilu membiru aku mengharap dekapan syafaatmu. --Yaa Habiballah, salam ‘alaik--

Nganjuk, Juli 2012


Hikayat Wanita yang Memerami Air Mata


Syahdan, seorang wanita berwajah manis, o bukan, seorang gadis dibalut kain minimalis berlari ke tepian malam dengan sekarung cemas dan air mata yang telah lama ia peram.

Dibawanya serta riwayat pesakitan, lambung kosong serta perih kehidupan yang sejak lama menganiaya usia.

Siapa yang bisa disalahkan saat
Lalu, dititipkanya kebahagiaan yang serupa benalu pada desah yang meresah, cucuran keringat juga goncangan cairan tengah tubuh anak manusia; surga baginya.

Apakah ia tak mengenal cerita nabi-nabi atau indahnya surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai susu? Atau  kalajengking dan cacing-cacing yang menjadi teman setelah nyawa diceraikan badan?

Oo bukan,
bukan hendak melumat bulat-bulat perihal siksa kubur juga api neraka, namun kisah paling darah ini hanya ia yang mampu menjamahinya. Bukan kamu, bukan kita, ataupun wanita-wanita kampung yang dari bibirnya selalu berloncatan segala serapah.

--Kini ia terus melangkah dengan biduk pelepah dan air mata, dengan kenangan yang terus beranak pinak, dengan ramai dosa yang menyesakki batok kepala.

Ia mulai mengemas juga mangemis cinta Pencipta, karena sejauh apapun jiwanya bertualang, dalam lumbung kosonglah kelak ia akan berpulang.


Sesayat Rusuk

Kelak rindu ini tertunai, oleh engkau yang akan membersamaiku menjinakan hujan dan kemarau.


Akan tiba waktunya engkau menjadi pakaianku-aku menjadi perhiasanmu, lalu saling bergenggaman tangan untuk menuju imperium baru.


Biarlah di tigaratus purnama usiaku yang hampir purna kita masih dibentangkan jarak, kelak kita telan jarak itu bulat-bulat, hingga ia melebur dalam baur, dan aku menjadi pengamin setia doa-doamu.


Lalu, pendar-pendar cahaya menjelma satu per satu, membias, menyejarah dalam payungan matahari; Jundi-jundi kita.


Sebab rindu yang sebegini derasnya hanya kita yang akan merasakan. Sampai nanti saat senja menganiaya usia, raga kita tak lagi mampu, namun jiwa tetap berpeluk-peluk.

Maka jagalah selalu semesta kecil di dada kita; Qolbu. Agar saat temu nanti benar-benar nyata, buncahan rindunya, letupan cintanya menggetarkan kaki-kak surga. Melesat hingga ke jannah-Nya. ---Aamiin yaa Mujibassailiin---




Sajak Kerinduan 1

Perihal kerinduan adalah rapal yang menyibukkan bibir, jari yang terjulur dalam kidung doa dan dzikir panjang, mulai dini hari juga saat  langit padam. Agar kita tak mendurhakai atas telapak kaki dan ubun-ubun yang terlanjur terlahir.

Takkan pernah selesai kutunai jasanya, saat yang dieraminya dengan  darah dan airmata. Sehingga rangkuman sunahnya serupa kompas  abadi bagi penjejak bumi seesudahnya. Maka Tuhan dan malaikat melangitkan shalawat untuknya; jangan dustakan ayat Tuhan pada Al azhab 56.


1/
Perihal kerinduan adalah mantra yang mengarus dalam shalawat, jari yang terjulur dalam kidung doa dan dzikir panjang, mulai dini hari juga saat  langit padam. Agar kita tak mendurhakai atas telapak kaki dan ubun-ubun yang terlanjur terlahir. Juga rindu yang selalu ranum pada pemilik mata seindah zaitun, adalah kepada engkau Yaa Habiballah.

2/
Takkan kering air ingatan, pada sebaris mantra, dalam kitab yang dieraminya dengan  darah dan airmata. Sehingga rangkuman sunahnya serupa kompas  abadi bagi penjejak bumi seesudahnya. Maka Tuhan dan malaikat melangitkan shalawat untuknya; jangan dustakan ayat Tuhan pada Al azhab 56.

3/
Cahayamu, adalah tempat tertanam dan tumbuhnya segala rindu yang biru, cinta yang nyata. Hingga aku menyalakan pijaran-pijaran harap, yang kini mengapung, terpantul dalam ribuan shalawat, dapatkah menerobosi jendela-jendela syafaatmu, Ya Habiballah?

4/
Seperti menghitung bilangan prima, satu satu luruh air mata, atas juntaian-juntaian dosa, juga alpa yang paling nanah. Namun cintamu, adalah letupan-letupan yang mengelus batin untuk memekarkan senyum.


Dengan jiwaku yang merunduk juga alunan salawat yang kuterbangkan pada bahumu yang sahaja, semoga dapat menjadi wasilah atas rindu-rindu yang kelak terijabah -Allahumma shali wa salim ala sayyidina Muhammad-

MENDEKAP NIRMALA

Ada rasa yang menderas di halaman hati
Mengalir dan bermuara pada kolam asa
Dipayungi langit pekat tanpa cahaya
Meski gelap kukuh menawan jiwa
Aku tak akan lelah menanti purnama
Hingga “bangunanmu” kokoh dan mengepakkan sayapnya
Menerbangkanku dalam denyut nadi yang tak sama
Melesat, jauh mendekap nirmala.
  Aku masih sama,
Menanti kuncupmu mekar jadi bunga
Menebar wangi bak kesturi di taman surgawi
Menjemputku mengalunkan melodi merdu
Mengikatnya dalam simpul yang satu.



Malang, 12-10-2011

ANGKUH


Gigil mengadu gigi
merusak rusuk
Kutarik selambu yang mengantongi debu
Menutupkannya pada tulangmu yang kemarau.
Kau gusar.
Tak sudi kotor mencicipi wangimu.
Kuberlari
Menembusi karat bergerigi
Kau longokkan kepala
Menyusuri tiap lorong sunyi
Mencari jantungmu yang kucuri.
Kau dapati aku
Saat sedih sedang kuseduh.
Dengan silau mata pisau
kau ukur akar yang mengukir di nadiku.
Baru kau tahu, semua namamu.
Lalu, saat selang sesal berseling di irisan-irisan degubmu.
Baru akan kau rindui punggung yang berpamit pulang.